Prolog Hati

Berumbai, berpautan, berpilin-pilin: ikal rambut dan panjang usia; sehasta hingga beberapa lagi. Adalah nilam sebuah hikam, adalah dalam perbendaharaan. Adakah idam berpencar, oh entah--oh entah bila merapat pada hijab; jiwaku halim bagai serabut merentang panjang lengan. Bulan bagai bara siap padam, penuhi guman setangkup hangat kuku; selaksa mimpi pengangsir dongeng malam--menimang bayang sebulir biji sawi. Menyisir angin di hadapan nyala lilin, semakin dengung kepak seekor ngengat; mabuk mengecap kekhusyuan hingga sayapnya rapuh terbakar. "Duh, syamsi yang terpagut lautku dalam sewindu; kidung bagi tiramku; seribu kuntum bagi salatin di tamanku, setangkai imbalan sehaus tujuh surga." Serangkai jalan membenam jejak menuju lumbung seberang pematang; santun pahatan dinding cadas, cucur keringat mendulang manikam: duh, tanah yg tak segembur yang terkira; seluas sahara sejumput sabana.

05 Mei 2010

Alunan Sunyi (2)

Aku ingat suatu hari saat musim bersemi, saat dimana fajar menampakan wajahnya; lukisan merah senja kecil dan sesuatu yang terbawa angin: debu-debu mencemari wewarna kasat mata hingga kelopak-kelopak tak tegar berhamburan sebelum idam bunga; mawar di musim panas terjilat bara serupa bunga api di atas perkamen yang tipis; lily terkepung ilalang menjadi cela di musim dingin; teratai di air hambar, juga dahlia yang hilang krisnanya. Segala yang merekah bersama panas-hujan dipetik buah bibir seadanya, menjadi guratan sembarang kuas pada kanvas kehidupan.

Pagi sejenak indah, pelangi hilang jubahnya. Sayup cericit burung kematian kudengar terjerat akaran beringin yang suluk ingin menyentuh tanah, seolah pertaruhan tadi malam berakhir dilagukan burung hantu, sebab kulihat bulan purna semalam setelah dilintasi sepasang sosok ringan bekejaran menuju sebrang taman. Juga suara sayat yang mengibaskan kerambu tidurku saat mata dan telinga hendak mengasah mimpi dan menajamkan doa.



(10 November 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar