Prolog Hati

Berumbai, berpautan, berpilin-pilin: ikal rambut dan panjang usia; sehasta hingga beberapa lagi. Adalah nilam sebuah hikam, adalah dalam perbendaharaan. Adakah idam berpencar, oh entah--oh entah bila merapat pada hijab; jiwaku halim bagai serabut merentang panjang lengan. Bulan bagai bara siap padam, penuhi guman setangkup hangat kuku; selaksa mimpi pengangsir dongeng malam--menimang bayang sebulir biji sawi. Menyisir angin di hadapan nyala lilin, semakin dengung kepak seekor ngengat; mabuk mengecap kekhusyuan hingga sayapnya rapuh terbakar. "Duh, syamsi yang terpagut lautku dalam sewindu; kidung bagi tiramku; seribu kuntum bagi salatin di tamanku, setangkai imbalan sehaus tujuh surga." Serangkai jalan membenam jejak menuju lumbung seberang pematang; santun pahatan dinding cadas, cucur keringat mendulang manikam: duh, tanah yg tak segembur yang terkira; seluas sahara sejumput sabana.

13 Januari 2011

Tak berjudul


Anakku sakit
kubaringkan ia sampai lelap dan lepas mimpinya

Anakku malang
belum tuntas sebait kubercerita hayalan,
matanya semerah bawang penuh dendam.

Anakku diperebutkan !
tangantangan dewa kerap membuatnya demam sampai menyiksa tulangrawan

Anakku diam
senyumnya bermain dengan dingin;
kuingat ia dalam rahim.

Anakku anak setan !
kulahirkan ia tengah malam
dengan teriak paksa tiga orang pejantan

Anakku tenang sekarang
telah kutahan nafasnya dengan bantal kesayangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar